Ilmiah Alamiah

Perubahan merupakan hal yang mudah saja untuk dilakukan bagi orang-orang yang benar-benar mau melakukannya. Akantetapi, perubahan merupakan hal yang mustahil bagi orang-orang yang tidak berusungguh-sungguh menginginkannya. Setelah sekian lama Indonesia merdeka, maka sesungguhnya kita sudah saatnya melihat rekaman ulang hal-hal penting yang terjadi di negeri ini.

Sejak Soekarno presiden pertama RI bersama Hatta mendeklarasikan kemerdekaan di rengasdengklok pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, maka sejak saat itu Indonesia menjadi negara yang berdaulat penuh dan tidak bergantung pada ihak manapun. Bangsa Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri. Sebagai langkah pertama waktu itupun segera dilakukan pembangunan struktur dan infrastruktur untuk mengisi kemerdekaan. Pernah beberapa kali melakukan perubahansistem demokrasi yang dianut dianggap sebagai hal yang wajar sebagai sebuah negara bangsa yang sedang mencari format yang paling tepat sampai pada akhirnya demokrasi pancasila ditetapkan sebagai format yang samapi sejauh ini oleh beberapa pakar dianggap paling sesuai dengan kondisi yang ada.

Selanjutnya yang terjadi adalah krisis multi dimensi yang melanda masyarakat kita dan bangsa Indonesia lima tahun sejak medio 1997. Maka masyarakat mengeluh dan mulai ada yang menggugat mengapa para ilmuwan yang dimiliki bangsa tidak nampak mampu menyelesaikannya. Memang media massa sangat banyak memuat analisis kaum cerdik pandai. Tetapi pendapat dan analisis pakar yang satu segera dibantah atau ditolak pakar yang lain dan pakar-pakar politisi yang duduk di pemerintahan terpaksa diam atau memutuskan kebijakan yang lain lagi yang juga tidak dianggap tepat oleh masyarakat. Alhasil masalah-masalah krisis yang sedang dihadapi masyarakat tidak kunjung terpecahkan.

Yang menjadi pertanyaan besara tentunya adalah “mengapa hal tersebut dapat terjadi?”. Terdapat dua sebab utama dapat disebut sebagai penyebab ke “memble” an pakar-pakar kita. Pertama, penghambaan mereka pada ilmu-ilmu pengetahuan yang mereka pelajari dari Barat yang sudah dianggap final. Kedua,sangat sedikit ilmuwan kita yang mau bersusah payah mengadakan penelitian induktif-empirik (hampir di segala bidang) karena mereka mengira ilmu-ilmu Barat sudah final dan universal dan penelitian terlalu banyak menyita waktu dan energi.

Apa yang didengung-dengungkan dengan anggaran pendidikan 20% belum terlihat hasil signifikan dalam memecahkan berbagai permaslahan pendidikan nasional. Ditingkat SMP yang memiliki perpustakaan tidak lebih dari 50% saja. Di tingkat SMA tawuran hampir menjadi ternd, dan diperguruan tinggi mungkin akan susah menemukan tridharma perguruan tinggi. Bahkan sebagian mahasiswanya sibuk kuliah hanya untuk mengejar absensi yang menjadi syarat utama mendpatkan nilai mata kuliah. Ini sebuah fenomena, bukan sesuatu yang salah, akantetapi patut untuk direnungkan secara dewasa demi kemajuan bangsa bersama.

SAGASITAS dari edisi ke edisi mencoba menularkan semangat meniliti khusunya pada remaja-remaja di Yogyakarta dan seluruh anak bangsa ini pada umumnya. Mencoba memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru, membangun semangat sensitifitas dan kreatifitas anak-anak muda yang masih punya banyak tenaga. Dengan memuat berbagai macam hasil kajian ilmiah dan penelitian siswa dalam berbagai bidang keilmuan. Tentunya kajian ilmiah yang ada disni jauh dari tingkatan sempurna. Termasuk SAGASITAS sendiri dalam mengemasnya. Namun hal ini cukup untuk mencerminkan semangat generasi muda untuk menyongsong era kemajuannya dengan penelitian.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: