Monthly Archives: November 2010

Sagasitas on Stage


TMII 5-7 November 2010

pada Gelar Seni budaya X, dalam rangka HUT Yogyakarta ke 253

Advertisements

Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Martabat Bangsa


Knowladge It Self Is Power, begitulah kira-kira yang di ungkap Bacon untuk menjelaskan, bahwa sesungguhnya Ilmu Pengetahuan merupakan sebuah kekuatan yang tak terhingga. Kalau sekarang  kita kaitkan dengan kondisi umum yang terjadi di Indonesia, kita akan mendapatkan sebuah titik jauh yang memberikan harapan baru bagi Bangsa yang sedang mengalami kelimbungan multidimensi.

Masalah satu belum terselesaikan sudah muncul masalah berikutnya. Bencana satu belum benar-benar teratasi, bencana berikutnya sudah datang kembali. Begitu banyak permasalahan yang akhir-akhir ini melanda bangsa Indonesia. 63 tahun perjuangan mengisi kemrdekaan yang sudah dengan susah payah diraih oleh para pahlawan pendahulu, ternyata belum dapat dirasakan secara utuh oleh seluruh anak bangsa ini. Indonesia yang pada awal tahun 1995an dapat mengalami kemajuan ekonomi yang cukup tinggi dan diprediksikan oleh beberapa ahli akan menjadi Negara pesaing utama Jepang dan Cina di Asia. Namun semuanya menjadi terbalik pasca krisis ekonomi pada tahun 1997 yang kemudian diikuti oleh krisis multidimensi menyebabkan semuanya berbalik.

Hampir semua unsur penguat sebuah negara (Lembaga) mengalami perubahan pasca reformasi tahun 1997 akhir. Sejak saat itu trend demokrasi di Indonesia meningkat dengan di tandai diadakannya pemilihan presiden secara langsung, kebebasan pers, kebebasan berpendapat, check and balance antara eksekutive dan legislative serta adanya upaya penegakan hukum yang kontinue. Hal-hal tersebut harus dicatat sebagai sebuah kemajuan kearah yang lebih baik. Walaupun dewasa ini masih menyisakan beberapa permasalahan yang cukup pelik dan belum terselesaikan seperti kasus-kasus korupsi dan angka kemiskinan yang justru meningkat dibandingkan dengan sebelumnya.

Walaupun masih terdapat beberapa permintaan dan akhir-akhir ini ditambah dengan beberapa bencana alam yang memperparah kondisi masyarakat. Namun harapan baru harus terus dipupuk dan dijaga, tentunya semua pihak kerjasama dan gotong royong yang harusnya menjadi ciri Bangsa Indonesia secara kultur, kini sudah mulai memudar, rasa nasionalisme juga sudah mulai berkurang. Model modal sosial seperti yang sudah selayaknya mendapat perhatian semua pihak untuk memperoleh kembali optimisme menatap masa depan.

Sudah 63 tahun bangssa ini merdeka,namun apakah kemerdekaan tersebut berlaku untuk seluruh umat bangsa ini?, jawabannya mungkin akan sangat subjektif, namun lebih dari pada itu proses mengisi kemerdekaan tentunya tidak dapat dianggap sebagai waktu yang singkat, hasilnya masih jauh dari cita-cita mencapai kemakmuran. Sebelumnya jauh sebelum Indonesia merdeka para pendiri bangsa ini telah memberikan contoh bagaimana mencapai cita-cita kemerdekaannya.

Tahun ini bangsa Indonesia dapat memperingati satu abad kebangkitan Nasional, oleh karena itu, selayaknya bangsa ini mendapatkan ruh baru untuk berjuang mengisi kemerdekaan, seperti para pejuang yang dengan penuh semangat menggapai kemerdekaan Republik ini. Ketika kita memperoleh kata sepakat untuk menjadikan ‘semangat’ sebagai modal utama para pendahulu dalam meraih kemerdekaan agar dapat dijadikan contoh maka sekarang ilmu pengetahuan harus dijadikan sebagai tonggak pembangunan utama bangsa ini. Oleh karena itu, dengan semangat kebangsaan tersebut Sagasitas mencoba kembali hadir untuk menuangkan ide-ide kreatif anak bangsa. ‘Tidak ada kata tidak bisa demi harkat dan martabat bangsa’, karena dengan menghormati kita akan dihormati, dengan mengabdi kita akan diabdi. [redaksi]

Sagasitas Edisi 9


Harmonisasi Etika dan Ilmu


Jika sekarang dintanyakan pada kita, apakah sebenarnya tujuan dari imu?. Jawabannya dapat bermacam-macam. Mislanya, untuk kemajuan, perkembangan ekonmi dan teknik, kemewahan hidup, kekayaan, kebahagiaan manusia, dan sebagainya. Demikian tadi cara manusia merenungkan tujuan ilmu. Bukan ilmu sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu yang konkret dapat dihayati. Ilmu yang memunculkan diri berdampingan dengan gejala kerumitan spesialisasi, rutin erja, krisis ekonomi, teknik perang modern, aneka gangguan rohani dan dehumanisasi.

Di zaman Yunani dulu, Aristoteles mengatakan bahwa ilmu tidak mengabdi kepada pihak lain. Ilmu digeluti oleh manusia demi ilmu itu sendiri. Sebagai latar belakangnya, dikenal ucapan : Premium vivere, deinde philosophari, yang artinya kira-kira : berjuang dulu untuk hidup barulah barulah boleh berfilsafah. Memang kegiatan berilmu barulah dimungkinkan setelah yang bersangkutan tak banyak lagi disibukkan oleh perjuangan sehari-hari mencari nafkah.

Pendapat orang, kegiatan berilmu merupakan kegiatan mewah yang menyegarkan jiwa. Dengan demikian orang dapat memperoleh banyak pengertian tentang dirinya sendiri dan dunia sekelilingnya. Menurut faham Yunani, bentuk tertinggi ilmu adalah kebijaksanaan dan bersama itu terlihat suatu sikap etika. Dari sini kita dapat melihat berbagai perubahan radikal di dunia yang didorong oleh percepatan dan perkembangan ilmu dan teknologi. Namun ketika semua kemajuan tersebut mulai tidak terbendung muncul berbagai kekhawatiran baru, yaitu mulai tidak seimbangnya alam yang mengakibatkan berbagai bencana datang merundung bumi.

Di penghujung akhir tahun 2007 ini sudah selayaknya kita merenungkan kembali apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita pelajari, semua ilmu dan pengetahuan yang kita peroleh kita gunakan untuk apa?. Oleh karena itu Sagasitas kali ini mencoba mengetengahkan karya-karya inovatif dari siswa dan guru di tengah hiruk pikuk pergolakan hedonisme, di tengah – tengah kesibukan mereka belajar dan di tengah – tengah kesibukan mereka mengajar, namun masih mampu melihat, mampu berkreasi untuk mencoba memecahkan pelbagai permasalahan di sekitarnya.

Sebuah penelaahan cerdas di bidang IPS yang dilakukan oleh Ancelma Rayi Sari Pranasti dkk., tentang “Usaha Angkringan Sebagai Bentuk Usaha Yang Elastis  Bagi Masyarakat Kecil (Studi Kasus Usaha Angkringan Di Yogyakarta)”. Selain itu, -Telaah IPA-”Yeasting Technique by Methode of Injection in Making of Tape Singkong and The Effectts towards the quality of the tape” oleh Fredi Yasa Wardhana, Satrio Danuasmo, Sigit Dwi Maryanto. Karya-karya siswa SMA tersebut merupakan suatu karya yang dapat dibanggakan di tengah hiruk pikuk hedonisme.

Karya kreatif lainnya lahir dari ketekunan Irvan Prasetya Yoga, Andry Yoga Pratama, Hersynanda Karyadi Utama yang berhasil membuat “Plat Seng Sebagai Bahan Pelemah Medan Magnet (Suatu Penelitian Awal Awal Untuk Memperkecil Medan Magnet Pada saluran Udara Tegangan Tinggi/Ekstra Tinggi (SUTT/ET)”, karya yang cukup inovatif sebagai respon terhadap permasalahan yang ada di sekitar lingkungannya.

Nur Wulan Sari, Evi Tazyinatul Millah, Hendy Hermawan -Telaah bidang Pendidikan Bahasa- ”Pandangan dan Sikap Pelajar dalam Berbahasa Indonesia Yang Baik dan Benar Sebagai Wujud Rasa Bangga terhadap Bahasa Nasional (Studi Terhadap Pelajar di MAN Yogyakarta I)”. Selain itu, ada karya tentang HAM dalam Keluarga, Sebuah Potret Perampasan Hak Anak oleh Orangtua” Manda Firmansyah merupakan bentuk kretaivitas generasi muda yang juga cukup membanggakan dan masih banyak lagi karya siswa SMA yang lainnya.

Apriadi Harinata dkk. yang meneliti “Hubungan antara Palung Laut Jawa dan Tripple Junction Terhadap Gempa Bumi di Yogyakarta” merupakan karya yang responsif terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar lingkungan kita. Sementara itu, karya Rudi Prakanto, S. Pd. yang menulis “FREEDOM OF ACTION” Dalam Proses Belajar Biologi di SMA Negeri 6 Yogyakarta dan Drs. Sutrisno dengan karya yang berjudul “Dari ‘Samdesing’ Hingga Tepuk Tangan” Upaya Meningkatkan Kompetensi Mendongeng  Melalui Penerapan Strategi “Babak” juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas bangsa yang memperihatinkan.

Sementara itu, masih ada profile yang dapat diteladani oleh siswa SMA, yaitu sosok Evan Purnama (SMA N 1 Yogyakarta) yang merupakan siswa berprestasi nasional dalam Olimpiade Sains Nasional 2007  serta profil dari Irfan Prasetya Yoga, Andry Yoga Pratama,  Hersynanda Karyadi Utama sebagai sosok remaja teladan di bidang penelitian yang memiliki segudang prestasi penelitian khususnya pada bidang kajian Kimia dan Fisika baik dalam kancah event lomba penelitian lokal maupun nasional.

Selanjutnya dalam kerangka pengembangan keilmuan khususnya di bidang penelitian, kami tim redaksi Sientfic Journal mencoba mentradisikan untuk terus memberikan report tentang berbagai pembinaan yang dilakukan oleh para pihak dan penggian KIR dan atau penelitian di berbagai sekolah baik dari tingkat SMP, SMA, MA maupun SMK di wilayah DIY.

Pada rubrik esklusif kami sengaja mengetengahkan catatan perjalanan kontingen DIY dalam OSN tahun 2007 di Surabaya baik dari kegiatan utama maupun kegiatan pendukung mulai dari uapara pembukaan sampai upacara penutan. Dan untuk melengkapi data tersebut tim redaksi juga berhasil mewawacarai secara khusus dari panitia utama kegiatan tersebut dan tim Komisi C DPRD Propinsi DIY serta tim Pendamping Kontingen DIY.

Selain itu dalam ekslusif ini kami juga mengetengahkan laporan khusus kegiatan di bidang penelitian yang beetajuk The 4th International Exibithin for Young Inventors (IEYI) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Pemda DIY (Dinas Pendidikan Propinsi DIY, dan Pemda Kota Yogyakarta.

Kemudian untuk melengkapi berbagai informasi yang berkaitan dengan pengembangan dunia penelitian kami menuliskan beberapa laporan kegiatan seperti: Eco Youth Program, Lomba Karya Ilmiah Geospasial, dan Lomba Kreativitas Guru (LKG). Sebagai tulisan lepas kami menghadirkan tulisan dari Tusidi Karyono dan Ujang Fahmi yang mencoba memberikan semangat kebangsaan terhadap masa depan bangsa Indonesia ke depan. Dan pada rubrik review kami hadirkan summary karya ilmiah Yati Utami Purwaningsih, M> Pd. dan karya tim Muda Wijaya Green School Community, serta pada rubrik pustka kami menghadirkan resensi terhadap dua buku yang sangat bagus untuk dibaca yaitu karya Gola Gong yang berjudul “Menggenggam dunia: Bukuku hatiku, Catatan sang Avonturir dan karya fenomenal Andrea Hirata yang menulis tiga serangkai dengan karya ketiganya dengan judul “Edensor”..

Tidak lupa juga kami ucapkan selamat hari raya idul adha, natal dan juga tahun baru kepada seluruh pembaca. semoga kita bisa berjumpa kembali dengan Sagasitas berikutnya. Selamat membaca.

 

Sagasitas,edisi 8


Ilmiah, Alamiah


Perubahan merupakan hal yang mudah saja untuk dilakukan bagi orang-orang yang benar-benar mau melakukannya. Akantetapi perubahan merupakan hal yang mustahil bagi orang-orang yang tidak berusungguh-sungguh menginginkannya. Setelah sekian lama Indonesia merdeka, maka sesungguhnya kita sudah saatnya melihat rekaman ulang hal-hal penting yang terjadi di negeri ini.

Sejak Soekarno presiden pertama RI bersama Hatta mendeklarasikan kemerdekaan di rengasdengklok pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, maka sejak saat itu Indonesia menjadi negara yang berdaulat penuh dan tidak bergantung pada ihak manapun. Bangsa Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri. Sebagai langkah pertama waktu itupun segera dilakukan pembangunan struktur dan infrastruktur untuk mengisi kemerdekaan. Pernah beberapa kali melakukan perubahansistem demokrasi yang dianut dianggap sebagai hal yang wajar sebagai sebuah negara bangsa yang sedang mencari format yang paling tepat sampai pada akhirnya demokrasi pancasila ditetapkan sebagai format yang samapi sejauh ini oleh beberapa pakar dianggap paling sesuai dengan kondisi yang ada.

Selanjutnya yang terjadi adalah krisis multi dimensi yang melanda masyarakat kita dan bangsa Indonesia lima tahun sejak medio 1997. Maka masyarakat mengeluh dan mulai ada yang menggugat mengapa para ilmuwan yang dimiliki bangsa tidak nampak mampu menyelesaikannya. Memang media massa sangat banyak memuat analisis kaum cerdik pandai. Tetapi pendapat dan analisis pakar yang satu segera dibantah atau ditolak pakar yang lain dan pakar-pakar politisi yang duduk di pemerintahan terpaksa diam atau memutuskan kebijakan yang lain lagi yang juga tidak dianggap tepat oleh masyarakat. Alhasil masalah-masalah krisis yang sedang dihadapi masyarakat tidak kunjung terpecahkan.

Yang menjadi pertanyaan besara tentunya adalah “mengapa hal tersebut dapat terjadi?”. Terdapat dua sebab utama dapat disebut sebagai penyebab ke “memble” an pakar-pakar kita. Pertama, penghambaan mereka pada ilmu-ilmu pengetahuan yang mereka pelajari dari Barat yang sudah dianggap final. Kedua,sangat sedikit ilmuwan kita yang mau bersusah payah mengadakan penelitian induktif-empirik (hampir di segala bidang) karena mereka mengira ilmu-ilmu Barat sudah final dan universal dan penelitian terlalu banyak menyita waktu dan energi.

Apa yang didengung-dengungkan dengan anggaran pendidikan 20% belum terlihat hasil signifikan dalam memecahkan berbagai permaslahan pendidikan nasional. Ditingkat SMP yang memiliki perpustakaan tidak lebih dari 50% saja. Di tingkat SMA tawuran hampir menjadi ternd, dan diperguruan tinggi mungkin akan susah menemukan tridharma perguruan tinggi. Bahkan sebagian mahasiswanya sibuk kuliah hanya untuk mengejar absensi yang menjadi syarat utama mendpatkan nilai mata kuliah. Ini sebuah fenomena, bukan sesuatu yang salah, akantetapi patut untuk direnungkan secara dewasa demi kemajuan bangsa bersama.

SAGASITAS dari edisi ke edisi mencoba menularkan semangat meniliti khusunya pada remaja-remaja di Yogyakarta dan seluruh anak bangsa ini pada umumnya. Mencoba memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru, membangun semangat sensitifitas dan kreatifitas anak-anak muda yang masih punya banyak tenaga. Dengan memuat berbagai macam hasil kajian ilmiah dan penelitian siswa dalam berbagai bidang keilmuan. Tentunya kajian ilmiah yang ada disni jauh dari tingkatan sempurna. Termasuk SAGASITAS sendiri dalam mengemasnya. Namun hal ini cukup untuk mencerminkan semangat generasi muda untuk menyongsong era kemajuannya dengan penelitian.